JAKARTA - Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Ia menghadirkan jeda dari hiruk-pikuk keseharian, memberi ruang bagi jiwa untuk kembali menata arah.
Di antara rangkaian hari yang terus bergulir, setiap tanggal dalam bulan suci menyimpan doa dengan makna mendalam.
Pada hari kelima, umat Islam diajak menengok kembali kualitas taubat, kesungguhan dalam beribadah, dan harapan untuk semakin dekat dengan Allah SWT.
Hari kelima Ramadhan menjadi momen untuk mempertegas niat. Bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang perjalanan batin menuju ampunan dan kemuliaan.
Doa yang dipanjatkan pada hari ini mengandung permohonan agar seorang hamba termasuk golongan yang gemar beristighfar, menjadi pribadi saleh yang taat, serta tergolong sebagai kekasih Allah yang didekatkan kepada-Nya. Nilai-nilai inilah yang menjadikan doa ini istimewa dan layak direnungi secara mendalam.
Makna Ramadhan Sebagai Ruang Pembersihan Jiwa
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang sunyi untuk membersihkan hati, memperbanyak doa, dan memperkuat istighfar. Dalam suasana yang penuh keberkahan ini, setiap Muslim diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Pada hari kelima, pesan yang mengemuka adalah pentingnya kesadaran diri. Manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Karena itu, istighfar menjadi jembatan antara kelemahan manusia dan kasih sayang Allah SWT. Taubat bukan tanda ketidakberdayaan, melainkan bukti bahwa hati masih hidup dan ingin kembali kepada kebenaran.
Merenungi doa hari kelima berarti menyadari bahwa ampunan Allah begitu luas. Setiap kalimat yang terucap bukan hanya permintaan, tetapi pengakuan atas kebutuhan kita akan rahmat-Nya. Dari sinilah perjalanan spiritual itu dimulai—dari hati yang tunduk dan lisan yang memohon.
Permohonan Menjadi Hamba Yang Gemar Beristighfar
Salah satu inti doa Ramadhan hari kelima adalah permintaan agar dijadikan bagian dari orang-orang yang gemar memohon ampun. Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan sikap batin yang terus merasa diawasi dan dicintai Allah SWT.
Ramadhan hari ke-5 mengajarkan bahwa taubat bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Istighfar bukan sekadar ucapan, tetapi komitmen untuk memperbaiki diri. Dan ketaatan bukan hanya rutinitas, melainkan jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT.
Dengan memperbanyak istighfar, seorang hamba sedang menata ulang langkah hidupnya. Ia belajar rendah hati, mengakui kesalahan, serta bertekad tidak mengulanginya. Dalam konteks Ramadhan, istighfar menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas ibadah lainnya, seperti shalat, puasa, sedekah, dan tilawah Al-Qur’an.
Ketika doa ini dipanjatkan, sesungguhnya tersimpan harapan agar hati senantiasa lembut dan mudah kembali kepada Allah setiap kali tergelincir dalam kesalahan.
Harapan Menjadi Hamba Saleh Dan Taat
Selain memohon ampun, doa hari kelima juga berisi permintaan agar termasuk dalam golongan hamba-hamba yang saleh dan taat. Kesalehan bukan hanya tampak dari ibadah lahiriah, tetapi juga dari akhlak, kejujuran, dan konsistensi dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Ketaatan yang dimaksud bukanlah keterpaksaan, melainkan kepatuhan yang lahir dari cinta. Seorang hamba yang taat memahami bahwa setiap perintah Allah mengandung kebaikan, dan setiap larangan-Nya adalah bentuk perlindungan.
Di bulan Ramadhan, latihan ketaatan itu terasa lebih intens. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa melatih disiplin spiritual. Bangun di sepertiga malam untuk sahur dan ibadah sunnah melatih kesungguhan. Semua itu menjadi jalan untuk membentuk pribadi yang lebih dekat dengan nilai kesalehan.
Doa ini bukan hanya rangkaian kalimat permohonan. Di dalamnya terkandung harapan besar agar kita menjadi hamba yang gemar memohon ampun, termasuk golongan orang-orang saleh yang taat, serta menjadi kekasih Allah yang didekatkan kepada-Nya. Sebuah cita-cita spiritual yang tinggi: diampuni, dibimbing, dan dimuliakan.
Kerinduan Menjadi Kekasih Allah Yang Didekatkan
Bagian paling menyentuh dari doa Ramadhan hari kelima adalah permohonan agar termasuk dalam golongan para kekasih Allah yang didekatkan kepada-Nya. Menjadi pribadi yang dicintai Allah adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual.
Kedekatan dengan Allah bukanlah sesuatu yang instan. Ia lahir dari proses panjang: taubat yang tulus, ibadah yang konsisten, dan akhlak yang terjaga. Dalam doa ini, seorang hamba memohon agar dengan kasih sayang-Nya, Allah berkenan mendekatkan dirinya ke dalam lingkaran orang-orang pilihan.
Memahami makna doa ini menjadikannya bukan sekadar bacaan harian, tetapi bahan perenungan yang menguatkan kualitas ibadah—baik selama Ramadhan maupun setelah bulan suci berlalu. Setiap kalimatnya mengandung visi besar tentang arah hidup seorang Muslim.
Berikut adalah doa Ramadhan hari ke-5 sebagaimana diriwayatkan:
Arab:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِيهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِينَ، وَاجْعَلْنِي فِيْهِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْقَانِتِينَ، وَاجْعَلْنِي فِيهِ مِنْ أَوْلِيَائِكَ الْمُقَرَّبِينَ، بِرَأْفَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Latin:
Allahummaj‘alnî fîhi minal mustaghfirîn, waj‘alnî fîhi min ‘ibâdikash shâlihînal qânitîn, waj‘alnî fîhi min awliyâikal muqarrabîn, bira’fatika yâ Arhamar râhimîn.
Artinya:
Ya Allah, jadikan aku di dalamnya termasuk orang-orang yang memohon ampun, jadikan aku di dalamnya termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan taat, dan jadikan aku di dalamnya termasuk para kekasih-Mu yang Engkau dekatkan dengan kasih sayang-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.
Melalui doa ini, hari kelima Ramadhan menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Allah selalu terbuka. Ampunan tersedia bagi yang memohon, kedekatan dianugerahkan kepada yang bersungguh-sungguh, dan kemuliaan diberikan kepada mereka yang menjaga ketaatan. Inilah esensi spiritual yang terus hidup dalam setiap helaan napas Ramadhan.